Sunday, June 10, 2012

upacara 42 hari kelahiran ngurah

Hari ini ngurah melaksanakan upacara tutug kambuhan/mecolongan atau
upacara 42 harian kelahirannya

upacara mecolonan seperti di tulis stitidharma.org online adalah
sebagai sebagai suatu upacara yang dilakukan saat
bayi berusia 42 hari (a-bulan pitung dina =
1 bulan 7 hari menurut perhitungan
Kalender Bali).
Tujuannya adalah: membersihkan jiwa raga
sang bayi dan ibunya dari segala noda dan
kotoran, dan berterima kasih kepada
"Nyama Bajang" si bayi atas
bantuannya menjaga si bayi sewaktu
masih dalam kandungan dan mohon agar
mereka kembali ke tempat asalnya
masing-masing.
Yang dimaksud dengan "Nyama Bajang"
adalah kelompok kekuatan Ida Sanghyang
Widhi Wasa yang membantu tugas-tugas
"Kanda-Pat" menjaga dan memelihara
si bayi sejak tumbuhnya benih, sampai
kelahiran bayi. Setelah bayi lahir, tugas-
tugas Nyama Bajang berakhir.
Nyama Bajang berjumlah 108, antar lain
bernama: Bajang Colong, Bajang Bukal,
Bajang Yeh, Bajang Tukad, Bajang
Ambengan, Bajang Papah, Bajang Lengis,
Bajang Dodot. Yang dimaksud dengan
"Kanda-Pat" adalah: Ari-ari, Lamas,
Getih, dan Yeh-Nyom.
Berbeda dengan Nyama Bajang, maka
Kanda-Pat senantiasa menemani manusia
sejak sebagai bayi dalam kandungan
sampai manusia menjadi tua lalu
meninggal dunia. Menurut lontar Tutur
Panus Karma, nama Kanda-Pat dan
Manusia berubah mengikuti usia sebagai
berikut:
Manik (Embryo)/ segera jika Ibu tidak
menstruasi:
Kanda-Pat: Karen – Bra – Angdian –
Lembana.
Embryo: Lengprana
Usia kandungan 20 hari:
Kanda-Pat: Anta – Preta – Kala – Dengan
Bayi: Lilacita
Usia kandungan 40 minggu/ ketika bayi
lahir:
Kanda-Pat: Ari-ari, Lamas, Getih, Yeh-Nyom
Bayi: I Pung
Usia 7 hari setelah kelahiran atau setelah
tali pusar mengering dan putus (yang jadi
pedoman adalah tali pusar putus):
Kanda-Pat: I Mekair, I Salabir, I Mokair, I
Selair.
Bayi: Tutur Menget
Bila bayi sudah bisa menyebut
"Babu" (kata ini senantiasa keluar dari
bibir bayi sebagai pelajaran pertama
berbicara secara alamiah):
Kanda-Pat: Sang Anggapati, Sang Prajapati,
Sang Banaspati, Sang Banaspati Raja.
Bayi: I Jiwa
Bila manusia sudah remaja (usia 14 tahun
untuk laki-laki, atau gadis menstruasi
pertama)
Kanda-Pat: Sang Sida Sakti, Sang Sida Rasa,
Sang Maskuina, Sang Aji Putra Petak.
Manusia: I Lisah
Bila manusia sudah tua (sudah bercucu/
melewati masa Griahasta):
Kanda-Pat: Sang Podgala, Sang Kroda,
Sang Sari, Sang Yasren
Manusia: Sang Ramaranurasi
Bila manusia baru meninggal dunia/ segera
setelah meninggal dunia:
Kanda-Pat: Sang Suratma, Sang
Jogormanik, Sang Mahakala, Sang Dorakala
Atma: Sang Manjing. Atma yang belum suci
tidak dapat bersatu dengan Brahman, oleh
karenanya masih menempuh proses
reinkarnasi.
Atma yang sudah suci, dapat bersatu
dengan Brahman dan tidak mengalami
proses reinkarnasi lagi, disebut:
Ratnakusuma.
Kanda-Pat: Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa,
Suniasiwa
Sebagaimana diuraikan di atas, upacara
Tutug-Kambuhan selain bertujuan untuk
berterima kasih kepada Nyama Bajang, dan
Kanda-Pat, juga bertujuan membersihkan
jiwa raga si bayi dan ibunya dari segala
kotoran.
Pembersihan si bayi baru pembersihan
tahap pertama, karena pembersihan tahap
berikutnya dilakukan pada upacara tiga
bulanan. Rambut si bayi misalnya, yang
dipandang "kotor" karena terbawa
sejak lahir, baru dipotong pada saat
upacara tiga bulanan.
Dikatakan sebagai pembersihan raga bagi
si bayi, karena pada usia 42 hari tali pusar
sudah putus, lapisan kulit yang paling tipis
sudah berganti, peredaran darah dan
konsumsi makanan sudah lancar sehingga
keringat, air mata, ludah, kencing, dan
kotoran sudah keluar. Pembersihan raga
ibu ditandai oleh terhentinya aliran
kotoran dari rahim.
Upacara ini merupakan tonggak/ batas
waktu bagi kebersihan jiwa si bayi dan
ibunya yang biasa disebut "lepas
sesebelan/ cuntaka". Sejak saat ini si bayi
dan ibunya boleh masuk ke Pemerajan/
Pura dengan catatan ibu dilarang
menyusui anak di dalam Pemerajan/ Pura
karena air susu yang menetes membawa
"keletehan" tempat suci.
Bagi sang ayah, tonggak/ batas waktu
cuntaka adalah ketika si bayi putus tali
pusarnya. Pada saat itu ayah natab bea
kala dan ngayab prayascita.
Melihat sedemikian banyaknya manfaat
yang diperoleh, maka upacara Tutug
Kambuhan ini sangat penting untuk
dilaksanakan tepat pada waktunya.
Dalam keadaan apa pun upacara ini
diusahakan terlaksana, walaupun sangat
sederhana. Misalnya, dalam satu rumah
ada halangan kematian, maka upacara
tutug kambuhan dilaksanakan di tempat
saudara yang lain (tidak sehalaman dengan
rumah duka).

0 comments:

Post a Comment

 
;